Disinilah Anak-Anak Pengungsi Suriah Tidur Selama Pengungsian

Magnus Wennman, seorang peraih award foto jurnalisme dari Stockholm menerbitkan serangkaian foto yang membuka mata kita tentang apa yang terjadi pada anak-anak dalam konflik di Timur Tengah, khususnya Suriah. Dalam membuat seri foto yang berjudul “Where The Children Sleep” tersebut, Magnus mengunjungi berbagai wilayah dimana anak-anak dan keluarga mereka berusaha mengungsi dari konflik berkepanjangan yang terjadi di negara mereka.

Dalam sebuah interview bersama CNN, Wennman yang bekerja pada suratkabar Swedia, Aftonbladet ini, mengungkapkan bahwa konflik dan krisis yang terjadi disana mungkin cukup sulit dipahami oleh banyak orang, namun satu hal yang pasti, anak-anak adalah korban dari konflik ini dan mereka sangat membutuhkan tempat yang aman untuk tidur dan menjalani hidup. Mereka telah kehilangan harapan dan mereka sepertinya tidak akan lagi mendapatkan keceriaan masa kanak-kanak seperti halnya yang didapatkan anak-anak seusianya.

info: Instagram | aftonbladet | CNN

Lamar, 5 tahun, Horgos, Serbia

1.children syrian refugee

Dulu sewaktu di Baghdad, boneka, kereta mainan dan bola adalah mainan favoritnya. Lamar sering bercerita tentang mainan-mainannya saat terkenang akan rumah. Sebuah ledakan bom telah mengubah segalanya. Keluarga Lamar sedang dalam perjalanan membeli makanan ketika sebuah bom meledak di sebelah rumahnya sehingga rumah mereka rusak parah dan tidak mungkin lagi ditinggali, ujar Sara, nenek Lamar. Setelah dua kali percobaan melintasi laut dari wilayah Turki dengan menggunakan perahu karet yang kecil, mereka akhirnya berhasil melintasi perbatasan Hungaria. Kini Lamar tidur di atas sebuah selimut usang di hutan dalam keadaan sedih, takut dan kedinginan.

Abdullah, 5 tahun, Belgrad, Serbia

2.children syrian refugee

Abdullah memiliki gangguan kesehatan pada darahnya. Selama dua hari ini, Ia tidur diluar di sebuah stasiun pusat di Belgrade, Serbia. Ia menyaksikan bagaimana saudara perempuannya  di rumah mereka di wilayah Daraa. “Ia masih shock dan mengalami mimpi buruk setiap malam” ujar sang ibu. Abdullah sangat lelah dan sakit-sakitan, namun ibunya tidak memiliki uang untuk berobat.

Ahmed, 6 tahun, Horgos, Serbia

3.children syrian refugee

Lewat tegah malam, Ahmed tertidur diatas rerumputan. Para pengungsi dewasa masih berkumpul merencanakan perjalanan keluar dari wilayah Hungaria tanpa harus melewati pihak berwajib. Ahmed masih berusia 6 tahun dan membawa sendiri tasnya sepanjang perjalanan yang melelahkan bersama keluarganya. ” Ia anak yang berani dan jarang sekali menangis pada malam hari”, menurut pengakuan sang paman yang mengurus Ahmed setelah kematian ayahnya yang di kampung halaman mereka di daerah Deir ez-Zor, wilayah utara Suriah.

Maram, 8 tahun, Amman

4.children syrian refugee

Maram yang baru berusia 8 tahun ini baru saja pulang sekolah saat sebuah roket menghantam dan menghancurkan rumahnya. Serpihan atap mengenai kepalanya. Ibunya membawa Maram ke rumah sakit, dan dari sana ia bersama keluarga mengungsi melewati perbatasan Jordan. Trauma pada kepalanya menyebabkan pendarahan pada otak. Selama 11 hari, Maram mengalami koma. Saat ini ia telah sadar, namun mengalami gangguan pada rahang dan tak mampu lagi berbicara.

Ralia 7 tahun dan Rahaf 13 tahun, Beirut

5.children syrian refugee

Ralia 7 tahun dan Rahaf 13 tahun hidup dijalanan di wilayah Beirut. Mereka berasal dari Damaskus, sebuah granat  ibu dan seorang saudara lelaki mereka. Bersama sang ayah, mereka telah melewati tahun yang penuh penderitaan. Saat akan tidur, mereka akan berdempetan lebih erat didalam kotak kardus tempat tidur mereka. Rahaf berkata bahwa Ia sangat takut pada “orang-orang jahat”, sementara sikecil Ralia mulai menangis.

Moyad, 5 tahun, Amman

6.children syrian refugee

Moyad dan ibunya saat itu hendak membeli tepung untuk membuat kue. Saat dalam perjalanan menuju sebuah pasar di wilayah Dar’a, mereka berjalan melintasi sebuah taxi yang ternyata telah dipasangi bom. Ibu Moyad tewas seketika saat bom meledak. Moyad yang saat ini telah mengungsi ke Jordan terkena pecahan bom yang masih tertanam di bagian kepala, punggung dan pinggulnya.